Kamis, 28 Januari 2010

058 ... Saat “si nakal” Menangis

Apa yang ada di pikiran Anda saat harus menilai seorang remaja “broken home” penikmat “Minuman Keras”, “beberapa jenis Narkoba”, dan “SEX bebas”? Ditambah dengan pola hidup yang kurang tertata dengan rokok yang senantiasa di tangan?


Jika pertanyaan ini diberikan dalam sebuah kertas ujian kelulusan pendidikan atau pekerjaan, mungkin sebagian besar orang akan menjawab diplomatis seakan membela sang remaja. Tentu saja dengan kata kunci “anak broken home”, maka segala tabiat yang ada di diri remaja tersebut pun selanjutnya dijadikan kambing hitam alasan “buah” kesalahan dari istilah “broken home”.


Namun bagaimana jika Anda dihadapkan langsung dengan bentuk fisik si anak tersebut tanpa kertas ujian yang berisi penjelasan latar belakang. Bayangkan di hadapan Anda sudah berdiri seorang remaja dengan penampilan sedikit urakan, rokok di tangan dan berbau minuman keras? Saya yakin, Anda langsung menyingkir sambil “komat kamit dalam hati tanda ketakutan atau bahkan jijik”. Selebihnya, tak jarang “hujatan” pun keluar.


Hari ini (masih di tanggal 28 Januari 2010), gambaran kondisi tersebut lah yang saya hadapi dalam hidup saya. Salah satu teman saya, yang memiliki deskripsi di atas, menghadapi sebuah masalah. Entah yang berurusan dengan pekerjaan, pacar, maupun keluarga. Intinya, semua masalah seakan bercampur di hari ini hingga membuat sosoknya tak se-riang biasanya.


Sebut saja ia “Budi”. Meski memiliki pola hidup yang “nakal”, namun ia cenderung mudah bergaul, termasuk dengan saya. Hingga tak heran, jika pola hidupnya tidak lagi terlalu mempengaruhi saya dalam menilai sosoknya. Namun tetap saja, rasa “simpati” tidak terlalu banyak berporsi kepadanya, terlebih dengan mengetahui beberapa pengalaman hidupnya yang telah ia bagi pada saya. Setelah tahu, diri pun tak ingin terlalu banyak ikut campur, kecuali jika ia meminta saran.


Pada hari ini, setelah pulang bekerja, saya menyempatkan bermain ke kost-an-nya. Maksud hati ingin sharing kegelisahan, agar siapa tahu saja bisa sedikit membantu. Namun dengan tegas ia mengatakan, “TIDAK”, ia lebih ingin berbagi masalahnya bersama minuman-minumannya.


Tak ingin selekas itu pula pergi, saya pun hanya sekedar berbincang tanpa mengorek masalahnya. Selama perbincangan ringan, seketika hp-nya pun berbunyi tanda panggilan dari Ibunya. Tak lama bersuara, ia pun menangis sambil menyuarakan luka hatinya dengan sang bunda. Berikut sedikit kutipannya (tentu saja sudah saya revisi, karena ia berbicara dalam kondisi mabuk):


Aku sudah kerja, bukan berarti aku sudah dewasa, aku juga butuh perhatian. Ibu dan Bapak hanya berpikir untuk bertangung jawab sama adek-adek saja, aku juga butuh itu. Ibu jangan menilai aku hanya dari omongan orang saja, saat aku capek-capek datang ke rumah aku maunya disayang juga, bukan untuk terus diomelin gara-gara omongan orang.


Tertegun saya, sambil sedikit tertawa karena kejadian ini sungguh begitu langka sekaligus begitu serupa dengan pesan moral di berbagai film-film bioskop Indonesia yang bertema kenakalan remaja.


Dari kejadian ini, rasa simpatik yang tadinya hanya secuil tertuju padanya, kini mulai bertambah. Meski tetap tidak setuju dengan bentuk pelarian masalah hidupnya, setidaknya saya belajar dari tangis tulusnya, bahwa “sebejad apapun anak, ia tetap butuh kasih sayang orang tuanya. Dan terkadang, orang tua terlalu egois saat mereka merasa bahwa tanggung jawabnya sudah terhenti seseaat setelah si anak keluar dari bangku sekolah atau kuliah. Sungguh, itu adalah persepsi yang salah.


Selanjutnya, semoga tulisan ini dapat memperluas persepsi kita, terutama saat di hadapkan oleh orang yang baru kita lihat. Cobalah untuk terus berbijaksana, karena hukum “sebab-akibat” selalu berlaku di dunia ini.


^^

057 ... life is U ...


Jika bukan diri kita sendiri, siapa lagi?

Inilah sepenggal seruan hati di saat diri ini merasa “HARUS BERJUANG” di antara himpitan kondisi yang “MAKIN SALAH” di tempat saya bekerja, entah terhadap sistem yang berlaku, maupun lingkungan kerjanya.


Tepat hari ini, Kamis, 28 Januari 2010, semua “ketidakberesan” itu seakan mulai meledak satu per satu. Entah dari pihak pemilik kantor yang merasa ber“HAK” atas apa yang diyakininya, maupun dari pihak saya yang juga merasa memiliki “KEKUATAN” untuk mempertahankan hak saya, sebelum benar-benar “DIINJAK”.


Bermula dari sebuah rapat dadakan sebelum sang pemilik perusahaan pergi keluar kota di keesokan harinya. Pada satu termin waktu, dipaparkan sebuah kendala yang terkait masalah “tanggung jawab” keredaksian. Namun, sebelum bercerita panjang, berikut saya paparkan sedikit kondisi saya selama bekerja di tempat itu.


--


“Melamar sebagai penulis dengan “job desk” membuat artikel hasil liputan. That’s it (at least inilah yang disampaikan oleh sang pemilik pada saat wawancara kerja di sekitar 1,5 tahun yang lalu, dan entah apakah kini ia masih ingat atau tidak). Namun, seiring berjalannya waktu, diri pun juga bertindak sebagai reporter dan editor. Bahkan dalam pelaksanaan yang lebih rinci, dapat dikatakan saya pun bertindak sebagai seluruh staf di bagian redaksi, entah redaktur, redaktur pelaksana, atau pun mungkin pemred (namun saya belum pernah berani mengatakan kalau saya sudah layak menjadi seorang pemred). Mulai dari menentukan siapa narasumber, apa topik yang harus dibahas tiap edisinya, hingga menghubungi para penulis luar dan kontributor, entah melalui email maupun telepon. Semua beban kerja tersebut, saya dapati seiring bertambahnya waktu, dan tentunya (secara logika) seiring dengan terbuktinya kemampuan saya dalam bidang kerja ini. Jika ada yang bertanya kenapa saya sanggup? Jawabannya “karena saya suka jenis pekerjaan ini”. Dan tidak usah bertanya apa kerja “Pemred” di majalah tempat saya bekerja ini. Bikin MUAK!!!!


Berawal dari rasa suka, serta maklum dengan kondisi yang ada (bahwa ini majalah baru dan minim SDM) maka apapun tantangan baru yang saya dapat (entah apakah hal baru itu memang sudah menjadi porsi saya atau tidak), saya terima dengan lapang dada. Pikir hati, “semua ini akan berguna buat saya kelak”. Namun, buah dari apa yang telah saya lakukan ini nyatanya hanya dipandang enteng oleh si pemilik (nge-GAMPANG-in). Dalam arti, tidak ada sama sekali upaya untuk “BELAJAR SENDIRI” memperbaiki sistem yang “SALAH” ini (secara logika coba banyangkan, adakah perusahaan media dengan SDM redaksi (yang bertugas mulai dari mencari berita hingga tercipta artikel) berjumlah hanya 1?). Tidak ada yang salah memang, namun, sebagai pemilik, seharusnya lebih berinisiatif mengenali persaingan bisnis ini, jika ingin usahanya maju dan berkembang (dan itu semua tentu saja didukung oleh kualitas yang maksimal).


Di satu sisi saya merasa bangga akan kinerja saya, namun di sisi lain, saya mulai merasa menjadi “SAPI PERAH” yang bisa diperas “PUTING SUSU” saya, sesuka hati. Melalui “KEMARAHAN”, jati diri pun kian terbentuk, terutama saat dihadapkan oleh beragam situasi yang berhubungan dengan sistem, penyelesaian masalah, serta “hal mendasar” dari setiap kejadian. Diri menjadi lebih kritis dan tegas dalam menyuarakan “KEBENARAN serta KERASIONALAN”, dan saya pun sangat bersyukur akan hal itu.


--


Balik lagi pada masalah tanggung jawab yang dipaparkan dalam rapat dadakan. Dalam pembicaraan, saya utarakan mengenai “KETIDAK INGINAN" saya mengerjakan apapun tulisan yang sudah melenceng dengan agenda redaksi di awal rapat, apalagi yang sifatnya mendadak karena faktor kejadian yang sifatnya tidak principle sebagai sebuah perusahaan media, atau bahkan yang dibumbui kepentingan pribadi. Mendengar paparan saya tersebut, seketika sang pemilik tersulut emosi, ia mengatakan bahwa hal tersebut sudah menjadi “KONSEKWENSI” kerja dan tidak bisa “LEPAS TANGGUNG JAWAB seenaknya”. Sebuah ungkapan yang tampaknya sudah terbendung lama dalam kediamannya, sejak beberapa hari kemarin.


Segera saya ambil keyword “TANGGUNG JAWAB” dari ungkapan kekecewaannya tersebut, dan balik menyuarakan maksud saya dengan diperkuat oleh landasan fakta-fakta yang ada. Namun, melihat ia masih “teguh” dengan pendiriannya tersebut (dan saya pun sudah tidak ingin lagi berbasa-basi), saya tutup perselisihan ini dengan pernyataan: “Oke, jika apa yang Anda sampaikan adalah mengenai TANGGUNG JAWAB, saya menyatakan TIDAK SANGGUP mengerjakan beban kerja yang begitu tidak sesuai takarannya ini, mohon silakan mencari tambahan pekerja yang bisa membantu tugas saya.


Terselimuti sedikit rasa tak enak (karena si bos begitu tersulut emosi dan tentu saja TERTOHOK), dalam batin ini sangat jelas tercuat sebuah “SENYUMAN”.


Tulisan ini sama sekali tidak saya maksudkan untuk menjelekkan satu atau beberapa pihak yang secara implisit telah saya sebutkan. Melainkan untuk bisa menyampaikan pelajaran hidup bahwa “Jika pada kondisi tertentu, di mana hati kita sudah merasakan sesuatu yang salah, jangan ragu untuk bertindak memperjuangkan hak kita sebagai individu. Terus pupuk keyakinan itu dalam diri, insyaallah moment tepat akan Allah SWT beri untuk kita, agar kita bisa tersenyum sebagai manusia yang memiliki hak sama di dunia ini. Entah dalam peran kita sebagai pekerja ataupun peran hidup lainnya."


Life is U. Karenanya, terus berdiskusi dengan diri demi pencapaian hidup yang lebih baik.


^^

Terimakasih bagi orang-orang yang telah memicu banyak permasalahan di kehidupan saya. U are the best!!!


Rabu, 27 Januari 2010

056 ... entah ...

Facebook sudah menjadi fenomena dasyat jejaring sosial di abad ini. Saya pun termasuk salah satu korbannya. Bahkan sampai saat ini, sudah menjadi kebiasaan saya bahwa facebook adalah situs yang bertama kali saya kunjungi sesaat koneksi internet tersambung. Setelahnya, email pun baru saya buka dan bla bla bla …

Tak banyak yang saya miliki di dunia ini. Dapat dikatakan, hanya pihak-pihak tertentu saja yang benar-benar bisa menyatu atau tampaknya mau menyatu dengan diri. Selebihnya, hanya sekedar basa-basi, tuntutan formalitas, atau sekedar ada di satu moment tertentu saja, termasuk yang tertuang dalam jejaring “facebook” tersebut. Semua seakan terus berputar sambil menjauh, bergesekan, atau berpantulan mengikuti seleksi alam di kehidupan saya. Tak jarang, saat mobilitas diri sedang terhenti, suasana begitu terasa “sangat sepi” (meski beratus-ratus wajah terpampang jelas pada daftar teman di profil facebook saya).

Itulah sedikit gambaran antara saya dan orang-orang di sekeliling saya, yang pada satu titik waktu, saya sempat berfikir akan “mengapa seleksi alam ini begitu jelas terasa di era kehidupan saya saat ini”. Entah, apakah saat ini saya sedang berada dalam kondisi krisis “kepercayaan diri”, atau memang sedang terpengaruh pada siklus “bad mood” saya saja. Tapi satu yang saya sadari, bahwa hal seperti ini pasti akan saya rasakan (mungkin juga dengan Anda), kapan pun itu, seiring bertambahnya masa, seiring bertambahnya usia.

(Entah) (Mungkin) Bagi sebagian besar orang, hal-hal semacam ini tidak “penting” untuk difikirkan. Tapi tidak ada salahnya jika kita mulai mempersiapkan “batin” ini, mulai dari sekarang. Agar nantinya, diri ini tidak terlalu “giat” “memaksakan” seseorang untuk mau masuk atau menyatu dalam kehidupan kita.


^^

Terimakasih untuk mereka yang mau menyapa, meski pada kenyataannya, diri ini sangat jarang tuk berinisiatif memulainya.

Selasa, 26 Januari 2010

055 ... hadiah terindah ...

Apa hadiah terindah saya di awal tahun 2010 ini?


Tentu saja kelahiran “bayi wanita” di hari Rabu, 06 Januari 2010. Makhluk kecil yang masih belum bernama ini, merupakan buah hati perkawinan kakak perempuan saya dan kini kehadirannya menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga, terutama saya. Hari pun menjadi lebih semarak.


Selamat datang ‘dede’, moga sehat selalu ya.



ipul_

Jumat, 11 Desember 2009

054 ... bila bukan KAMU


Tepat 3 tahun yang lalu di hari ini (11 Desember), untuk pertama kalinya saya merasakan jatuh cinta. Ya, CINTA PERTAMA. Cinta yang oleh sebagian besar orang mungkin dianggap sangat telat untuk dirasakan oleh ia yang sudah berusia 23.


Ia itu tentu saja saya, dan semua yang terjadi memang pure 100% mengalir apa adanya. Tanpa saya minta dan tanpa saya duga, apalagi saya paksa. Dalam hati, “akhirnya gw ngerasain juga yang kayak beginian! Hehe ^^.”

Sampai saat ini, semua peristiwa yang terjadi kala itu masih terasa baru kemarin terjadi. Rasa yang terpendam di “dada” pun masih saja sama, belum menguning apalagi me-layu. Hingga entah, apa lagi yang meski saya harapkan dari fenomena diri yang begitu langka terjadi ini.

Kau buat aku (masih,red) bertanya
Kau buat aku (masih,red) mencari
Tentang rasa ini, aku (masih,red) tak mengerti
Akankah sama jadinya bila bukan kamu


Sherina Munaf_”cinta pertama dan terakhir”

Ya, apa jadinya jika bukan “kamu”?
Apakah akan sama?
Apakah akan se-alami ini?

Tak pernah saya berani menjawab apalagi mencari-cari setiap kemungkinan yang ada di hadapan. Bukan karena “takut” atau “bodoh”, tapi ada “satu keyakinan” yang akhirnya membuat saya terus bertahan. Meski entah pada akhirnya nanti, saya tahu bahwa takdir kami ternyata sudah cukup sampai saat itu saja.


Hidup manusia dibangun atas keyakinan, that’s why, saya masih bisa terus menanti dan berjuang.
_ipul

Selasa, 10 November 2009

053 ... "u" make me laugh ...

Selasa, 10 November 2009
Pagi ini, sambil berkendara menuju kediaman kerja, tiba-tiba pikiran menjalar di alam semestanya. Bibir tersenyum sesaat munculnya beragam wajah manusia yang senantiasa membuat diri ini tertawa. Terbayang kembali moment-moment “kelucuan” bersama mereka hingga tak peduli lagi apakah ekspresi di balik helm ini mampu terbaca pengendara lain yang kebetulan berpapasan dengan motor saya. Haha … “u” are so funny … thx guys …

Berikut (secara acak) beberapa sosok individu yang senantiasa membuat diri ini tertawa:


1. Aditya Pratama (Adit)

Hmmm … sosoknya sempat menduduki posisi teratas di hati ini. Bukan karena saya jatuh cinta dengannya, tetapi kenapa ya??? … mmm … mungkin karena dia adalah sosok yang pertama kali memperkenalkan saya akan arti sebuah pertemanan. Tak jarang, karena harapan yang terlalu tinggi kepadanya, sempat membuat diri ini kecewa dan “jatuh”. Namun, dari keterpurukan itulah, saya bisa belajar untuk bangkit dan berusaha menjadi pribadi yang lebih matang.

Berbincang dengan pria kelahiran 28 Juli 1984 ini, tak pernah membuat saya “tidak tertawa”. Melalui pembicaraan konyol, kami sering kali memainkan lakon-lakon manusia di Kota Jakarta. Mulai dari tante-tante girang istri pejabat kaya, hingga pemulung kelas berat yang bergaji puluhan juta. Yang lebih terasa adalah ketika kami SMA, saat dia senantiasa berperan sebagai personil salah satu Boyband, dan saya berperan sebagai fans-nya. Huahahaha, sungguh bodoh, goblok, dan ga penting (bahkan bikin ilpil kalo dipikirin lagi, hehe).

2. Putri Rahayu Ratri (Putri)

Bwahahahahaha … ngebayangin mukanya saja sudah membuat saya terpingkal. Apalagi kalau meski dihadapkan dengan segala tingkah konyolnya. She’s my ‘real’ friend. Karenanya, kami bisa tertawa sekaligus serius secara bersamaan. Membuahkan ‘chemistry’ tersendiri yang membuat kami selalu terikat. Terikat dalam arti, di mana pun kami berada, seberapa jarang kami bertemu, kami tetap dapat saling mengandalkan satu sama lain.

Panggilan saya kepada wanita kelahiran 24 Oktober 1985 ini pun beragam, mulai dari Nyi Ronggeng, Bundo Dorce, hingga Beyonce. Entah karena alasan apa hingga saya memanggilnya Nyi Ronggeng, mungkin karena terasa pas saja nama itu untuk mewakili sosoknya. Begitu pun halnya dengan Bundo Dorce dan Beyonce yang lebih dikarenakan kedua sosok wanita tersebut sangat pas mewakili beberapa karakter dirinya yang lain, yaitu ‘slengean’ namun sensitif layaknya Bundo Dorce dan berpantat lebar layaknya Beyonce, haha. Untuk nama panggilannya yang terakhir, turut didukung juga oleh kegemarannya pada sosok penyanyi RnB tersebut, yang gerak tarinya begitu sering Putri plagiatkan hingga membuat teman yang melihat menjadi tertawa. Karena itulah, kehadiran Putri mampu membuat suasana menjadi lebih berwarna dan hangat.

3. Marsenia Trinanda Haris (Nane)

Sosoknya yang sedikit tambun (termasuk saya juga), membuat kami saling mencela fisik kami satu sama lain. Tak jarang ikon-ikon kegemukan terciprat di bibir ini untuk memanggil sosoknya. Adapun ikon kata yang sering tercuat adalah “gentong”, “gembrot”, “tong sampah”, “gembul”, “gembyor”, “galon”, dan sebagainya yang seketika saja terpikirkan selama percakapan.

Hal lain yang membuat saya tertawa akan sosoknya adalah karena sifat “lemot”nya. Tak bisa dicontohkan secara gamblang dalam tulisan ini, karena kelucuan yang terpancar dari dirinya pun memang seakan abstrak tapi nyata. Tak terlalu abadi “aura kelucuan”nya, namun senantiasa hadir kembali jika sosoknya pun ada. Karena itulah, kehadirannya mampu membawa aura tersendiri di antara teman-teman yang lain.

4. Ary Kuswinarno (Ary)


Pengagum semua jenis wanita ini (bwahahaha) memang memiliki keunikan tersendiri. Di satu sisi, he’s so devil, but in the other side … he’s a great friend. Meski muka kayak ‘setan’, tapi tetep suka ngerumpi sambil berbagi pengalaman. Tak heran, darinya, diri ini mampu lebih mengenal beragam rupa dunia, terutama di sisi “gelap”nya, yang selama ini belum banyak terjamah oleh saya. Alhasil, otak saya menjadi lebih terbuka menerima segala informasi dan fakta kehidupan. Hingga tak jarang membuahkan pengalaman dan pelajaran hidup meski diri tak harus ikut menyelaminya.

Pria yang berprofesi sebagai fotografer ini sangat lah supel. Tak heran, ia memiliki banyak teman di berbagai tingkat kalangan. Temannya yang banyak itu, juga didukung dengan hobinya yang selalu “on line” di berbagai situs pertemanan, atau bahkan membuat komunitas sendiri yang salah satu aktivitasnya pernah membuahkan kasus heboh yang sempat marak di berbagai berita kriminal televisi. Karena itu, tak heran jika setiap kali kami pergi liputan di beberapa wilayah di Indonesia, ia selalu memiliki teman yang bisa diminta bantuan.

Kelucuannya mungkin tak terpancar melalui kata apalagi wajah. Namun, di banyak kesempatan, saat kami berbincang, guyonan demi guyonan yang memojokkan sosoknya, mampu membuat dia “mati kutu”. Sumpah, lucu banget kalo diri ini berhasil menemukan kelemahannya untuk kemudian dapat meledek. Haha.

5. Lala Rachmawati (Lala)

Sebelumnya, kami hanya sekedar sapa saja. Namun, karena tuntutan profesi, kami pun seakan mempunyai ruang waktu tersendiri untuk mendiskusikan perihal pekerjaan. Memang wajar, saya yang berprofesi sebagai penulis, dan dia editor-nya. Alhasil, diskusi yang tadinya beraura “serius”, lambat laun mengalir hingga tak disangka sosoknya (atau lebih tepat kata-katanya - red) begitu mampu membuat diri ini tertawa.

Loh, kenapa “kata-kata”nya? Ada satu hal yang tidak biasa dari pertemanan kami yaitu kami cenderung memunculkan sifat asli kami hanya lewat fasilitas “Yahoo Messenger”. Hal tersebut terjadi karena kami memang beda kantor dan jarang sekali berbincang melalui tatap muka. Tak heran, rasa canggung masih sedikit terasa kalau kami bertemu, tetapi seakan hilang di saat kami ber-YM-an. Sungguh unik, dan keberadaannya sedikit banyak telah membantu saat diri ini dirundung kesuntukan selama bekerja.


^^'
Waaah, meski karakter mereka berbeda, namun satu hal yang istimewa, dari mereka lah saya masih bisa tertawa lepas, di antara himpitan perputaran roda dunia. Tengkyu telah memberi keceriaan di hidup saya teman-teman. :)

Selasa, 20 Oktober 2009

052 ... Kebodohan yang Sempurna


Belajar dari satu moment kebersamaan saya dengan teman-teman semasa SMA di tanggal 12 September 2009. Sebuah kebersamaan yang seakan menjadi agenda rutin di setiap datangnya bulan Ramadhan. Meski rutin, namun tidak setiap tahun saya bisa menyempatkan diri tuk bergabung di dalamnya. Entah karena berbagai alasan yang memang benar apa adanya, atau karena alasan tertentu yang sengaja saya buat demi menghindari pertemuan itu.

Ada rasa yang aneh saat saya berkumpul bersama mereka. Sebuah rasa yang tak jarang membuahkan ketidaknyamanan, entah di saat acara sedang berlangsung atau saat semuanya telah berakhir. Namun rasa tersebut muncul karena apa, saya pun seakan tak pernah menemui jawabnya. Kondisi seperti itu kemudian seakan memuncak di moment pertemuan kemarin. Pada suatu waktu, bahkan perasaan MUAK sempat mencuat di dada ini.
***


Terkadang, meski raga saling mendekat, namun tameng tebal seakan saling menutupi jati diri kami masing-masing. Ada yang menamengi dirinya dengan penampilan super WAH, dengan tameng kemisteriusan, atau dengan tameng ikon wanita karier yang memiliki kesibukan luar biasa. Hal-hal sepele seperti “sekarang gw udah punya pacar”, atau “pacar gw tinggalnya di luar negeri” pun seakan menjadi bumbu wajib perjumpaan kami di setiap tahunnya. Hingga terbaca sebuah kesan bahwa masing-masing dari kami saling berusaha keras tuk menunjukkan kepada yang lainnya bahwa “duniaku kini jauh lebih bahagia dan sempurna, dibandingkan aku yang dahulu atau mungkin dibandingkan kamu, kamu, dan kamu.” Sebuah sifat egois bin narsis yang begitu jelas tertangkap dari tiap gerak tubuh hingga ucapan yang keluar dari raga kami semua.

Rasa jijik menanggapi kondisi ini pun mendesak diri tuk segera menggali mutiara yang tersimpan di baliknya. Dan setelah mencoba menelaah dengan berbagai kondisi pembanding, muncul sebuah fakta akan makna sebuah pertemanan yang pada akhirnya berhasil saya goreskan dalam tulisan ini.

Pertemanan adalah ‘tempat’ di mana kebersamaan berada. Di dalamnya tidak ada yang jauh lebih sempurna di banding yang lain. Tidak ada yang lebih cantik, tidak ada yang lebih kaya, tidak ada yang lebih bahagia. Di dalam wadah ‘pertemanan’, semuanya bisa segera melepas atribut duniawi mereka meski tanpa di perintah. Semua diperkenankan bertindak bodoh tanpa khawatir akan penilaian yang serius. Semua boleh menjadi kanak-kanak dengan topik pembicaraan yang sepele. Semuanya pun boleh menghujat tanpa perlu menjadikannya hal yang istimewa. Hingga melalui canda tawa, semua beban kehidupan seakan bebas meninggalkan pikiran barang sejenak saja. Keseriusan pun hanya menjadi ajang permainan yang mengambil porsi kecil kebersamaan. Dan tawa pun terkadang yang menjadi solusi dari setiap pembahasannya. Hingga ketika beban hidup kembali datang, ia terlihat menjadi lebih ringan dan tidak serumit apa yang dibayangkan sebelumnya. Tak heran, jika pada akhirnya, ‘pertemanan’ pun mampu menjadi ‘rumah’ baru bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari rutinitas kehidupannya.

Yap, itulah makna terpendam yang baru saya dapati dari sebuah pertemanan. Bahwa pertemanan bukanlah ‘tempat’ di mana kesempurnaan berada. Tetapi pertemanan adalah tempat di mana kebodohan sekalipun bernilai sangat sempurna.

^^’
Kehadiran teman adalah sebuah karunia. Jadi, nikmati selagi bisa!

Sukses sll teman2 ...