Apa yang ada di pikiran Anda saat harus menilai seorang remaja “broken home” penikmat “Minuman Keras”, “beberapa jenis Narkoba”, dan “SEX bebas”? Ditambah dengan pola hidup yang kurang tertata dengan rokok yang senantiasa di tangan?
Jika pertanyaan ini diberikan dalam sebuah kertas ujian kelulusan pendidikan atau pekerjaan, mungkin sebagian besar orang akan menjawab diplomatis seakan membela sang remaja. Tentu saja dengan kata kunci “anak broken home”, maka segala tabiat yang ada di diri remaja tersebut pun selanjutnya dijadikan kambing hitam alasan “buah” kesalahan dari istilah “broken home”.
Namun bagaimana jika Anda dihadapkan langsung dengan bentuk fisik si anak tersebut tanpa kertas ujian yang berisi penjelasan latar belakang. Bayangkan di hadapan Anda sudah berdiri seorang remaja dengan penampilan sedikit urakan, rokok di tangan dan berbau minuman keras? Saya yakin, Anda langsung menyingkir sambil “komat kamit dalam hati tanda ketakutan atau bahkan jijik”. Selebihnya, tak jarang “hujatan” pun keluar.
Hari ini (masih di tanggal 28 Januari 2010), gambaran kondisi tersebut lah yang saya hadapi dalam hidup saya. Salah satu teman saya, yang memiliki deskripsi di atas, menghadapi sebuah masalah. Entah yang berurusan dengan pekerjaan, pacar, maupun keluarga. Intinya, semua masalah seakan bercampur di hari ini hingga membuat sosoknya tak se-riang biasanya.
Sebut saja ia “Budi”. Meski memiliki pola hidup yang “nakal”, namun ia cenderung mudah bergaul, termasuk dengan saya. Hingga tak heran, jika pola hidupnya tidak lagi terlalu mempengaruhi saya dalam menilai sosoknya. Namun tetap saja, rasa “simpati” tidak terlalu banyak berporsi kepadanya, terlebih dengan mengetahui beberapa pengalaman hidupnya yang telah ia bagi pada saya. Setelah tahu, diri pun tak ingin terlalu banyak ikut campur, kecuali jika ia meminta saran.
Pada hari ini, setelah pulang bekerja, saya menyempatkan bermain ke kost-an-nya. Maksud hati ingin sharing kegelisahan, agar siapa tahu saja bisa sedikit membantu. Namun dengan tegas ia mengatakan, “TIDAK”, ia lebih ingin berbagi masalahnya bersama minuman-minumannya.
Tak ingin selekas itu pula pergi, saya pun hanya sekedar berbincang tanpa mengorek masalahnya. Selama perbincangan ringan, seketika hp-nya pun berbunyi tanda panggilan dari Ibunya. Tak lama bersuara, ia pun menangis sambil menyuarakan luka hatinya dengan sang bunda. Berikut sedikit kutipannya (tentu saja sudah saya revisi, karena ia berbicara dalam kondisi mabuk):
“Aku sudah kerja, bukan berarti aku sudah dewasa, aku juga butuh perhatian. Ibu dan Bapak hanya berpikir untuk bertangung jawab sama adek-adek saja, aku juga butuh itu. Ibu jangan menilai aku hanya dari omongan orang saja, saat aku capek-capek datang ke rumah aku maunya disayang juga, bukan untuk terus diomelin gara-gara omongan orang.”
Tertegun saya, sambil sedikit tertawa karena kejadian ini sungguh begitu langka sekaligus begitu serupa dengan pesan moral di berbagai film-film bioskop
Dari kejadian ini, rasa simpatik yang tadinya hanya secuil tertuju padanya, kini mulai bertambah. Meski tetap tidak setuju dengan bentuk pelarian masalah hidupnya, setidaknya saya belajar dari tangis tulusnya, bahwa “sebejad apapun anak, ia tetap butuh kasih sayang orang tuanya. Dan terkadang, orang tua terlalu egois saat mereka merasa bahwa tanggung jawabnya sudah terhenti seseaat setelah si anak keluar dari bangku sekolah atau kuliah. Sungguh, itu adalah persepsi yang salah.”
Selanjutnya, semoga tulisan ini dapat memperluas persepsi kita, terutama saat di hadapkan oleh orang yang baru kita lihat. Cobalah untuk terus berbijaksana, karena hukum “sebab-akibat” selalu berlaku di dunia ini.
^^





Bwahahahahaha … ngebayangin mukanya saja sudah membuat saya terpingkal. Apalagi kalau meski dihadapkan dengan segala tingkah konyolnya. She’s my ‘real’ friend. Karenanya, kami bisa tertawa sekaligus serius secara bersamaan. Membuahkan ‘chemistry’ tersendiri yang membuat kami selalu terikat. Terikat dalam arti, di mana pun kami berada, seberapa jarang kami bertemu, kami tetap dapat saling mengandalkan satu sama lain.
Pengagum semua jenis wanita ini (bwahahaha) memang memiliki keunikan tersendiri. Di satu sisi, he’s so devil, but in the other side … he’s a great friend. Meski muka kayak ‘setan’, tapi tetep suka ngerumpi sambil berbagi pengalaman. Tak heran, darinya, diri ini mampu lebih mengenal beragam rupa dunia, terutama di sisi “gelap”nya, yang selama ini belum banyak terjamah oleh saya. Alhasil, otak saya menjadi lebih terbuka menerima segala informasi dan fakta kehidupan. Hingga tak jarang membuahkan pengalaman dan pelajaran hidup meski diri tak harus ikut menyelaminya.
Sebelumnya, kami hanya sekedar sapa saja. Namun, karena tuntutan profesi, kami pun seakan mempunyai ruang waktu tersendiri untuk mendiskusikan perihal pekerjaan. Memang wajar, saya yang berprofesi sebagai penulis, dan dia editor-nya. Alhasil, diskusi yang tadinya beraura “serius”, lambat laun mengalir hingga tak disangka sosoknya (atau lebih tepat kata-katanya - red) begitu mampu membuat diri ini tertawa.

